Tan Malaka dan Gagasan “Merdeka 100 Persen”: Ketika Kemerdekaan Dipertanyakan

Bangbeksnews com Jakarta – (17/08/2026),
Surat Untuk Sahabat
“Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan.
Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama.
Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar.
Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku.
Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah seratus persen.
Hari ini aku masih melihat bahwa kemerdekaan hanyalah milik kaum elit, yang mendadak jadi borjuis, suka cita menjadi ambtenaar.
Kemerdekaan hanyalah milik kalian, bukan milik rakyat.
Kita mengalami perjalanan yang salah tentang arti medeka, apabila kalian teruskan dan tidak segera memperbaikinya maka sampai kapan pun bangsa ini tidak akan pernah merdeka! Hanya para pemimpinnya yang akan mengalami kemerdekaan, karena hanya mereka adil dan makmur itu dirasakan. Dengarlah perlawananku ini.
Karena apabila kalian tetap bersikap seperti ini, maka inilah hari terakhir aku datang sebagai seorang sahabat dan saudara. Esok, adalah hari dimana aku akan menjelma menjadi musuh kalian, karena aku akan tetap berjuang untuk merdeka seratus persen.”
Tan Malaka ; Menuju Merdeka 100%
Tan Malaka dan Gagasan “Merdeka 100 Persen”: Ketika Kemerdekaan Dipertanyakan
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 menandai berakhirnya kekuasaan kolonial secara politik. Namun, bagi Tan Malaka, kemerdekaan tidak cukup hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan.
Tokoh pergerakan nasional yang dikenal memiliki pemikiran radikal tersebut memandang bahwa kemerdekaan harus membawa perubahan nyata bagi kehidupan rakyat. Negara yang merdeka, menurut gagasan yang ia perjuangkan, semestinya mampu menghadirkan keadilan sosial, kesejahteraan, serta kebebasan yang benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dalam pemikirannya tentang “Merdeka 100 Persen”, Tan Malaka mengkritik kemungkinan lahirnya sebuah keadaan ketika kemerdekaan secara formal telah tercapai, tetapi manfaatnya justru lebih banyak dinikmati oleh kelompok tertentu.
Ia menyoroti munculnya elite baru yang berpotensi menggantikan posisi penguasa lama, sementara rakyat tetap berada dalam kondisi sulit.
Bagi Tan Malaka, perubahan kekuasaan semata belum dapat disebut sebagai kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan harus diikuti dengan perubahan mendasar dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Pemikiran tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan sejarah pemikiran politik Indonesia. Tan Malaka tidak hanya berbicara mengenai bagaimana Indonesia memperoleh kemerdekaan, tetapi juga mempertanyakan untuk siapa kemerdekaan itu diperjuangkan.
Pertanyaan tersebut tetap relevan untuk direnungkan di tengah peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sebab, setelah lebih dari delapan dekade Indonesia merdeka, makna kemerdekaan tidak berhenti pada upacara, pengibaran bendera, maupun perayaan semata.
Kemerdekaan juga menyangkut bagaimana rakyat memperoleh keadilan, kesempatan, pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan, serta hak yang sama sebagai warga negara.
Pemikiran Tan Malaka kemudian meninggalkan sebuah pertanyaan besar yang terus bergema dari generasi ke generasi:
Apakah Indonesia telah benar-benar merdeka, atau kemerdekaan masih menjadi cita-cita yang harus terus diperjuangkan?
Bagi Tan Malaka, perjuangan belum selesai selama kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan oleh rakyat.
“Merdeka 100 persen” bukan sekadar slogan, melainkan gagasan tentang kemerdekaan yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.



