Rengasdengklok,KotaKecilSaksiSejarahLahirnyaProklamasiKemerdekaanIndonesia17Agustus1945

Oleh: Priyono J A (Pemerhati Masalah Sosial) Rengasdengklok adalah sebuah kota kecil berada di sebelah utara pusat kota/ibu kota Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Secara geografis, kecamatan bersejarah ini berjarak sekitar 17 hingga 20 kilometer dari pusat pemerintahan Karawang. Batas-batas wilayah Kecamatan Rengasdengklok berdasarkan arah mata angin, Di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Jayakerta dan Kecamatan Pedes. Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kecamatan Karawang Barat. Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Bekasi, yang dipisahkan oleh batas alam berupa Sungai Citarum. dan sebelah Timur, berbatasan dengan Kecamatan Kutawaluya dan Kecamatan Rawamerta. Kota kecil ini mengingatkan kita atas peristiwa 81 tahun yang lalu. Rengasdengklok identik dengan sebuah peristiwa penculikan yang mengubah arah dan sejarah bangsa Indonesia. Kota kecil ini menjadi saksi bisu dalam sejarah lahirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Pada tanggal 16 Agustus 1945 antara pukul 03.00-04.00 pagi sekelompok pemuda yang terdiri dari Soekarni, Chaerul Saleh, Wikana, Darwis, Yusuf Kunto dan Singgih (seorang Perwira PETA (Pembela Tanah Air berpangkat shodanco), melakukan penculikan terhadap Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta ke Rengasdengklok, dengan menggunakan mobil sedan fasilitas PETA. Ikut bersama Ir. Soekarno Fatmawati dan putra sulungnya yang masih belia, Guntur Soekarno Putro. Awalnya Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta ditempatkan di sebuah gubuk tua di tepi kali dekat area persawahan yang kondisinya kurang layak. KH. Darip (seorang pejuang dari Klender) mengusulkan kepada Soekarni dan kawan-kawan, agar menempatkan kedua tokoh tersebut disebuah tempat yang layak, maka kedua tokoh tersebut ditempatkan di rumah Djiw Kie Siong (seorang saudagar Tionghoa). Bendera Merah Putih sudah dikibarkan oleh para pejuang yang ada di Rengasdengklok pada Kamis tanggal 16 Agustus 1945. Penculikan ini dilatar belakangi oleh keinginan tokoh muda yang menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai yang dianggap sebagai badan persiapan kemeredekaan buatan Jepang. PPKI dipimpin oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta berpendapat agar proklamasi dilakukan melalui PPKI, sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI. Hal tersebut dilakukan agar Soekarno dan Mohammad Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang yang masih menguasai Indonesia. Kaum muda yang dipelopori Soekarni khawatir apabila kemerdekaan Indonesia seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang, padahal kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia sendiri. Sehari sebelumnya tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1945, golongan kaum muda telah mengadakan suatu perundingan di salah satu lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur Jakarta. Dalam pertemuan ini diputuskan agar pelaksanaan kemerdekaan Indonesia dilepaskan dari segala ikatan dan hubungan dengan Jepang. Kemudian hasil keputusan sudah disampaikan kepada Ir. Soekarno pada malam harinya. Namun hal tersebut ditolak oleh Ir. Soekarno karena Ir. Soekarno merasa bertanggung jawab sebagai ketua PPKI. Nampak jelas bahwa pemuda-pemuda Indonesia pada waktu itu mendorong untuk segera dilaksanakan proklamasi kemerdekaan. Pemuda dijaman itu sudah berpikir jauh kedepan untuk kemajuan bangsa sehingga pemuda berperan sebagai agen perubahan (agent of change). Singgih bolak-balik Rengkasdengklok-Jakarta untuk memberikan setiap perkembangan. Tujuan Soekarni dan kawan-kawan adalah mendesak kedua tokoh tersebut untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa Rengasdengklok ini merupakan klimaks perbedaan pendapat antara golongan tua (Soekarno, Muhammad Hata dan Ahmad Soebardjo dan tokoh lainnya) dengan golongan kaum muda. Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta tetap kekeh dan tidak berubah pendiriannya ketika menghadapi desakan para kaum muda tersebut dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pada waktu yang bersamaaan di Jakarta, Chaerul Saleh dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Chaerul Saleh dan kelompok pemuda Menteng 31 telah menyusun strategi matang untuk menggerakkan massa, mahasiswa, dan tentara guna merebut kekuasaan secara paksa dari Jepang. Rencana kudeta atau aksi mogok massal ini belum bisa dilaksanakan karena kurangnya soliditas dan dukungan bersenjata yang utuh dari seluruh kesatuan PETA di Jakarta. Namun, apa yang telah direncanakan oleh Chaerul Saleh tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana yang digagasnya tersebut. Soekarni dan kawan-kawan belum mendapat kabar berita dari Jakarta, maka Seokarni mengambil inisiatif mengirim Jusuf Kunto ke Jakarta untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di sana. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Wikana dan Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Subardjo ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera berangkat ke Jakarta guna membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Menteng Jakarta yang merupakan rumah Ir Soekarno. Pada tanggal 16 Agustus tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta. Sesampainya di Jakarta Ir. Soekarno, Mohammad Hatta dan Achnad Soebardjo berkumpul di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda (yang kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi) terjadi perumusan dan penulisan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada malam hingga dini hari tanggal 16–17 Agustus 1945. Tempat ini dipilih dan dipinjamkan karena dijamin aman dari gangguan tentara Jepang. Selanjutnya Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo merumuskan teks proklamsi (perumus teks), Sayuti Melik mengetik naskah (pengetik). Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang “dipinjam” (sebetulnya diambil) dari kantor Kepala Perwakilan Kriegsmarine (nama resmi Ankatan Laut Nazi Jerman dari tahun 1935-1945), Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler. Ada dua pilihan lokasi untuk pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang pertama lapangan IKADA (yang sekarang telah menjadi lapangan Monumen Nasional). Kedua rumah Ir. Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56. Jakarta. Setelah melakukan perundingan atau musyawarah antara golongan tua dan kaum muda, rumah kediaman Ir. Soekarno akhirnya yang dipilih. Hal ini dilakukan dengan pertimbanagan untuk menghindari kericuhan antara penduduk dengan tentara Jepang yang sudah berjaga-jaga di lapangan IKADA. Setelah jepang mendapat informasi ada sebuah acara yang akan diselenggarakan di lokasi tersebut. Keesokan harinya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 194 bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriah, Teks Proklamasi dibacakan oleh Ir. Soekarno didampingi Drs. Mohammad Hatta tepat pukul 10.00 WIB. Pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung di jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta. Dengan dikumandangkan Proklamasi Kemeredekaan Indonesia tersebut Indonesia menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Negara pertamakali yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara resmi adalah Mesir. Mesir memberikan pengakuan secara de facto pada tanggal 22 Maret 1946, disusul dengan pengakuan secara de jure pada tanggal 10 Juni 1947. Selanjutnya dukungan negara-negara Timur Tengah yang tergabung dalam Liga Arab, India (memberikan pengakuan resmi dan dukungan kuat bagi kedaulatan Indonesia), Suriah, Lebanon, dan Irak (memberikan pengakuan resmi pada pertengahan tahun 1947) dan Vatikan (menjadi negara di Eropa pertama yang memberikan pengakuan kemerdekaan pada Juli 1947(disarikan dari berbagai sumber).





